PERIBAHASA #A
PERIBAHASA DENGAN KATA "ABU"
_________________________________________________________
#1. Berdiang di abu dingin.
Artinya: Minta pertolongan kepada orang yang miskin/menderita.
#2. Kalah jadi abu, menang jadi arang.
Artinya: Menang atau kalah dalam suatu perselisihan pasti merugi.
#3. Mengabui mata orang.
Artinya: Menipu orang lain.
#4. Seperti abu di atas angin.
Artinya: Menggantung diri kepada orang yang berkuasa.
#5. Sudah jadi abu arang.
Artinya: Telah rusak sama sekali.
#6. Terpegang di abu hangat.
Artinya: Kecewa karena baru mulai sudah mendapat kecelakaan.
Untuk dibaca: Pantun Lucu Berbalas Lucu Banget Bikin Ngakak
PERIBAHASA DENGAN KATA "ADA"
_______________________________________________________________
#7. Ada udang di balik batu.
Artinya: Mempunyai maksud tersembunyi yang tidak ditampakkan.
#8. Ada air ada ikan.
Artinya: Dimana kita tinggal di situlah kita mendapatkan rezeki.
#9. Asal ada kecilpun pada.
Artinya: Kalaupun tak mendapat rezeki yang besar, yang kecilpun mencukupi pula.
#10. Waktu ada jangan dimakan, bila tiada boleh dimakan.
Artinya: Berhemat-hematlah.
span> Artinya: Sesuatu sukar diubah.
PERIBAHASA DENGAN KATA "ALAH"
_______________________________________________________________
#66. Alah membeli menang memakai.
Artinya: Mahal sedikit barang tak apa, asal baik dan tahan dipakai.
#67. Alah bisa karena biasa.
Artinya: Pekerjaan itu sekalipun sukar, tetapi kalau dikerjakan sungguh pasti dapat.
ِ
PERIBAHASA DENGAN KATA "ALAS"
_______________________________________________________________
#68. Di alas bagai memengat.
Artinya: Kalau berkata pikirlah dahulu baik buruknya agar tak dicela oleh orang lain.
#69. Menjadi alas kubur.
Artinya: Kita yang menanggung semua kejelekannya.
ِ
PERIBAHASA DENGAN KATA "ALU"
______________________________________________________________
#70. Bagai guna-guna alu, sesudah menumbuk dicampakkan,
Artinya: Jika sudah tidak berguna biasanya dibuang begitu aja.
#71. Bak alu pencukil duri.
Artinya: Mengerjakan sesuatu pekerjaan yang sia-sia hasilnya.
PERIBAHASA DENGAN KATA "AMPANG"
__________________________________________________________
#72. Ampang sampai ke seberang, dinding sampai ke langit.
Artinya: Persaudaraan yang telah putus karena persengketaan dan tak mungkin dapat
baik kembali.
#73. Ambil sarinya, buang ampasnya.
ِ
PERIBAHASA DENGAN KATA "AMPAS"
_________________________________________________________
#73. Ambil sarinya, buang ampasnya.
Artinya: Kerjakan perbuatan yang baik, buanglah pekerjaan yang jelek, yang
merugikan orang lain.
merugikan orang lain.
PERIBAHASA DENGAN KATA "ANAK"
__________________________________________________________
#74. Anak dipangku dilepaskan, beruk dirimba disusukan.
Artinya: Membereskan perkara orang lain, sedang urusannya sendiri dilupakan.
#75. Anak sebatang kara.
Artinya: Anak yang tak mempunyai sanak saudara.
#76. Anak seorang penaka tidak.
Artinya: Anak yang tidak punya sanak saudara.
#77. Anak cantik, menantu molek.
Artinya: Seseorang yang sedang dalam kebahagiaan atau mendapatkan keuntungan
yang sangat banyak.
#78. Beranak tiada berbidan.
#77. Anak cantik, menantu molek.
Artinya: Seseorang yang sedang dalam kebahagiaan atau mendapatkan keuntungan
yang sangat banyak.
#78. Beranak tiada berbidan.
Artinya: Seseorang yang kesusahan karena perbuatannya sendiri.
#79. Kasihkan anak tangan-tangankan, kasihkan bini tinggal-tinggalkan.
Artinya: Jika kita sayang akan anak harus kita marahi jika ia bersalah.
#80. Kecil-kecil anak, kalau besar menjadi onak.
Artinya: Waktu masih kecil membuat hati senang, kalau sudah besar membuat
kesusahan bagi kedua orang tuanya.
#81. Rusak anak oleh menantu.
Artinya: Orang yang kita kasihi merusak harta benda yang kita berikan kepadanya.
#82. Pandang anak pandang menantu.
Artinya: Mencari menantu harus sepadan.
#79. Kasihkan anak tangan-tangankan, kasihkan bini tinggal-tinggalkan.
Artinya: Jika kita sayang akan anak harus kita marahi jika ia bersalah.
#80. Kecil-kecil anak, kalau besar menjadi onak.
Artinya: Waktu masih kecil membuat hati senang, kalau sudah besar membuat
kesusahan bagi kedua orang tuanya.
#81. Rusak anak oleh menantu.
Artinya: Orang yang kita kasihi merusak harta benda yang kita berikan kepadanya.
#82. Pandang anak pandang menantu.
Artinya: Mencari menantu harus sepadan.
ِ
PERIBAHASA DENGAN KATA "ANJING"
__________________________________________________________
#83. Bagai anjing menyalak di ekor gajah.
Artinya: Si lemah hendak melawan orang berkuasa, tentu saja kalah.
#84. Anjing mengulangi bangkai.
Artinya: Mengulangi perbuatan yang tak patut.
#85. Angin ditepuk menjungkit ekor.
Orang yang tiada berbudi bila dihormati sombong.
#86. Anjing galak, babi berani.
Sama-sama berani.
#87. Anjing itu meski dirantai dengan rantai emas sekalipun, niscaya berulang
ulang juga ke tempat najis.
Orang yang bertabiat jahat, sekalipun dinasehati atau disenangkan tak akan berubah
kelakuannya.
#88. Bagai anjing beranak enam.
Sangat kurus tubuhnya.
#89. Bagai anjing tersepit pagar.
Orang yang tidak pernah tahu membalas budi orang yang menolongnya, malahan
membuat sakit hatinya.
#90. Seperti anjing beroleh bangkai.
Seorang yang rakus dengan mudah mendapatkan suatu benda.
#91. Seperti anjing berebut tulang.
Orang yang tamak dalam perebutan mencari rezeki.
#92. Seperti anjing bercawat ekor.
Orang yang pergi karena malu.
#93. Seperti anjing dengan kucing.
Tidak pernah rukun.
#94. Seperti anjing kepala busuk.
Orang yang dikenal jahat, kemanapun ia pergi dan dimanapu ia berada pasti akan
selalu dihinakan orang.
#95. Seperti anjing terpanggang ekor.
Mendapat kesusahan yang teramat sangat sehingga tidak karuan tingkahnya.
#96. Seperti disalah anjing bertuah.
Tidak dapat ditangguhkan/ditunda lagi.
#97. Sudah dianjung, diantakan (dihempaskan)
Sudah diangkat dihina pula.
#98. Antah berkumpul dengan antah, beras bersama beras.
Setiap orang selalu mencari orang yang sederajat.
#99. Dipilih antah satu-satu.
Dipilih atau diperiksa dengan seksama.
#100. Tidak tahu antah terkunyah.
Tidak merasa melakukan sesuatu yang tidak patut.
#101. Tiada berpisah antah dan beras.
Tiada tentu lawan atau kawan.
#102. Disisih sebagai antah.
Tidak boleh ikut campur.
#103. Antan patah lesung hilang.
Tertimpa berbagai musibah atau kemalangan.
#104. Seperti antan pencungkil duri.
Melakukan hal yang sia-sia.
#105. Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar.
Tidak diperlakukan sebagaimana mestinya.
#106. Dekat tak tercapai, jauh tak antara.
Sesuatu yang dekat tetapi tidak bisa diambil karena tiada upaya.
#107. Bagai api dengan asap.
Persahabatan yang sangat erat.
#108. Bersuluh menjumput api.
Bertanya sesuatu yang sudah diketahui.
#109. Kalau tak api masakan ada asap.
Perbuatan asap akhirnya tersiar juga.
#110. Meletakan api di bubungan.
Sengaja mencari bahaya.
#111. Seperti api dalam sekam.
Hal-hal yang tidak baik yang tidak tampak.
#112. Seperti api makan lalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.
Orang yang lemah tidak berdaya menolak bencana yang menimpanya.
#113. Terapung sama hanyut, terendam sama basah.
Sehidup semati, senasib sepenanggungan.
#114. Terapung tak hanyut, terendam tak basah.
Belum tentu kesudahannya.
#115. Menantikan ara tak bergetah.
Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terpenuhi.
#116. Searah bertukar jalan.
Sama maksudtnya tetapi berlainan cara mencapainya.
#117. Berarak tidak berlari.
Melakukan sesuatu sebagaimana mestinya.
#118. Menghapus arang di muka.
Menghilangkan malu.
#119. Tercoreng arang di dahi.
Mendapat malu.
#120. Terpijak arang hitam tampak.
Orang yang berbuat jahat pasti akan mendapat halangan.
#121. Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan.
Tabit orang yang tidak akan berubah.
#122. Usul menunjukan asal.
Kelakuan (budi bahasa) orang menunjukan asal keturunannya.
#123. Garam di laut asam digunung, bertemu dalam belanga.
Laki-laki dan perempuan kalau sudah jodoh bertemu juga.
#124. Kelihatan asam kelatnya.
Kelihatan sifat-sifatnya yang kurang baik.
#125. Sudah seasam segaramnya.
Sudah tidak ada celanya (tentang pekerjaan, perbuatan)
#126. Tahu asam garamnya.
Tahu seluk beluknya (baik buruknya)
#127. Belum dipanjat asap kemenyan.
Belum kawin.
#128. Dari asa nasi saja.
Mengakukan milik (kepunyaan orang lain).
#129. Menggantang asap, mengukir langit.
Melakukan perbuatan sia-sia atau berangan-angan yang hampa belaka.
#130. Asing lubuk, asing ikannya.
Lain daerah, lain adatnya.
#131. Asing maksud, asing sampai.
Tidak sesuai dengan yang diharapkan.
#132. Atap rumbia perabung upih.
Barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk.
#133. Aur ditanam, betung tumbuh.
Mendapat untung (laba) yang banyak.
#134. Seperti aur dengan rebung.
Sangat karib tentang persahabatannya.
#135. Seperti aur dengan tebing.
Saling menolong, tunjang menunjang.
#136. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya.
Kita yang bersusah payang, orang lain yang mendapat keuntungan.
#137. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.
Untuk menutupi kesalahannya, dicari alasan pada orang lain.
#138. Ayam bertelur di atas padi.
Hidup dalam kesenangan dan kemewahan.
#139. Ayam bertelur di padi mati kelaparan.
Selalu kekurangan meskipun berpenghasilan besar.
#140. Ayam berkokok, hari siang.
Sudah ada tanda yang pasti.
#141. Ayam ditambat disambar elang.
Malang sekali, bernasib buruk.
#142. Ayam beroga itu kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun,
ke hutan juga perginya.
Betapapun senangnya dan bahagianya di perantauan, negeri asal kita tak
mudah dilupakan.
#143. Ayam hitam terbang malam, hingga ke rimba dalam, bertali ijuk
bertambang tanduk.
Sukar ketahuan (tentang perkara atau sebagainya).
#144. Ayam itik raja pada tempatnya.
Setiap orang berkuasa di lingkungan atau tempatnya.
#145. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasi, bertali benang
bertambah tulang.
Mudah ketahuan.
#146. Bagai ayam dimakan tungau.
Tidak sehat badannya, lagi kurus dan pucat wajahnya.
#147. Menerka ayam di dalam telur.
Menentukan sesuatu yang mustahil ditentukan.
#148. Seperti anak ayam kehilangan induk.
Menderita kesusahan karena kehilangan pemimpinnya.
#149. Seperti musang berbulu ayam.
Pura-pura berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.
#150. Babi merasa gulai.
Menyama-nyamai orang besar (kaya).
#151. Kalau sorok lebih dahulu daripada tokok, tidak mati babi.
Kalau lagak atau bual yang didahulukan, maksud tidak akan tercapai.
#152. Badak makan anak.
Ayah membuang anaknya karena takut akan binasa kebesarannya (pada raja-raja
zaman dahulu).
#153. Seperti kulit badak.
Tidak punya perasaan.
#154. Badan dapat dimiliki, hati tak dapat dimiliki.
Orang yang selalu menuruti perintah, tapi dalam hatinya melawan.
#155. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak mudah dilupakan orang.
#156. Beroleh badar ditimbahkan.
Mendpat keuntungan yang tida disangka-sangka.
#157. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri.
Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baikpun menjadi bagus.
#158. Besar kayu besar bahannya.
Jika penghasilan besar, pengeluaran besar.
#159. Bahasa menunjukan bangsa.
Budi bahasa, perangai, dan tutur kata menunjukan sifat dan tabiat seseorang.
#160. Memikul dibahu, menjunjung di kepala.
Mengerjakan sesuatu menurut aturan.
#161. Tangan mencencang, bahu memikul.
Siapa yang salah harus mendapat hukuman.
#162. Bajak patah banting terambau.
Menderita kecelakaan bertimpa-timpa.
#163. Bajak selalu di tanah lembut.
Orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah.
#164. Bajak sudah terdorong ke bancah.
Sudah terlanjur tidak dapat kembali.
#165. Dahulu bajak daripada jawi.
Sesuatu yang patut didahulukan, dikebelangkankan/Tidak menurut aturan biasanya.
#166. Baji dahan membelah dahan.
Memboroskan harta tuannya.
#167. Bersua baji dengan matan, tahan baji oleh kelidai.
Keras berani lawan keras berani pula.
#168. Bagai memakai baju pinjaman.
Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.
#169. Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang ke sisiran.
Seseorang yang senang karena terlepas dari kesusahan.
#170. Baju indah dari balai, tiba dirumah menyarungkan.
Hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi.
#171. Jangan mengukur baju orang di badan sendiri.
Jangan mengukur orang lain dengan kejahatan dan kebaikan kita sendiri.
#172. Mencabik baju di dada.
Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.
#173. Mengukur baju di badan sendiri.
Menentuan baik dan buruk menurut perasaan sendiri.
#174. Bakarlah air ambilah abunya.
Menghendaki sesuatu yang mustahil kita peroleh.
#175. Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Sangat kikir, sangat kuasa.
#176. Bagai kebakaran jenggot.
Bingung tidak karuan.
#177. Terbakar kampung kelihatan asap, terbakar hati siapa tahu.
Biasanya jarang sekali orang memperhatikan kesusahan orang lain.
#178. Bala lalu dibawa singgah.
Sengaja mencari kesusahan atau kecelakaan.
#179. Bagai balam dengan ketitir.
Perihal orang yang selalu bertengkar, masing-masing membanggakan dirinya sendiri.
#180. Ibarat seekor balam, mata terlepas badan terkurung.
Ibarat wanita pingitan.
#181. Memikat balam dengan balam.
Mendapat sesuatu dengan sebangsanya.
#182. Alang berjawab, tepuk berbalas.
Baik dibalas baik, jahat dibalas dengan jahat.
#183. Balik belakang lain bicara.
Tidak teguh memegang janji.
#184. Tersembunyi di balik kata.
Mempunyai maksud lain dari apa yang dikatakan.
Aduh capek juga nulisnya... mending baca dulu pantun cinta romantis banget.
Orang yang bertabiat jahat, sekalipun dinasehati atau disenangkan tak akan berubah
kelakuannya.
#88. Bagai anjing beranak enam.
Sangat kurus tubuhnya.
#89. Bagai anjing tersepit pagar.
Orang yang tidak pernah tahu membalas budi orang yang menolongnya, malahan
membuat sakit hatinya.
#90. Seperti anjing beroleh bangkai.
Seorang yang rakus dengan mudah mendapatkan suatu benda.
#91. Seperti anjing berebut tulang.
Orang yang tamak dalam perebutan mencari rezeki.
#92. Seperti anjing bercawat ekor.
Orang yang pergi karena malu.
#93. Seperti anjing dengan kucing.
Tidak pernah rukun.
#94. Seperti anjing kepala busuk.
Orang yang dikenal jahat, kemanapun ia pergi dan dimanapu ia berada pasti akan
selalu dihinakan orang.
#95. Seperti anjing terpanggang ekor.
Mendapat kesusahan yang teramat sangat sehingga tidak karuan tingkahnya.
#96. Seperti disalah anjing bertuah.
Tidak dapat ditangguhkan/ditunda lagi.
ANJUNG
______________________________________________________________#97. Sudah dianjung, diantakan (dihempaskan)
Sudah diangkat dihina pula.
ANTAH
_______________________________________________________________#98. Antah berkumpul dengan antah, beras bersama beras.
Setiap orang selalu mencari orang yang sederajat.
#99. Dipilih antah satu-satu.
Dipilih atau diperiksa dengan seksama.
#100. Tidak tahu antah terkunyah.
Tidak merasa melakukan sesuatu yang tidak patut.
#101. Tiada berpisah antah dan beras.
Tiada tentu lawan atau kawan.
#102. Disisih sebagai antah.
Tidak boleh ikut campur.
ANTAN
______________________________________________________________#103. Antan patah lesung hilang.
Tertimpa berbagai musibah atau kemalangan.
#104. Seperti antan pencungkil duri.
Melakukan hal yang sia-sia.
#105. Datang tidak berjemput, pulang tidak berantar.
Tidak diperlakukan sebagaimana mestinya.
#106. Dekat tak tercapai, jauh tak antara.
Sesuatu yang dekat tetapi tidak bisa diambil karena tiada upaya.
ASAP
______________________________________________________________#107. Bagai api dengan asap.
Persahabatan yang sangat erat.
#108. Bersuluh menjumput api.
Bertanya sesuatu yang sudah diketahui.
#109. Kalau tak api masakan ada asap.
Perbuatan asap akhirnya tersiar juga.
#110. Meletakan api di bubungan.
Sengaja mencari bahaya.
#111. Seperti api dalam sekam.
Hal-hal yang tidak baik yang tidak tampak.
#112. Seperti api makan lalang kering, tiada dapat dipadamkan lagi.
Orang yang lemah tidak berdaya menolak bencana yang menimpanya.
APUNG
______________________________________________________________#113. Terapung sama hanyut, terendam sama basah.
Sehidup semati, senasib sepenanggungan.
#114. Terapung tak hanyut, terendam tak basah.
Belum tentu kesudahannya.
ARA
_____________________________________________________________#115. Menantikan ara tak bergetah.
Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terpenuhi.
#116. Searah bertukar jalan.
Sama maksudtnya tetapi berlainan cara mencapainya.
#117. Berarak tidak berlari.
Melakukan sesuatu sebagaimana mestinya.
PERIBAHASA DENGAN KATA " ARANG"
_____________________________________________________________#118. Menghapus arang di muka.
Menghilangkan malu.
#119. Tercoreng arang di dahi.
Mendapat malu.
#120. Terpijak arang hitam tampak.
Orang yang berbuat jahat pasti akan mendapat halangan.
PERIBAHASA DENGAN KATA "ASAL"
______________________________________________________________#121. Asal ayam pulang ke lumbung, asal itik pulang ke pelimbahan.
Tabit orang yang tidak akan berubah.
#122. Usul menunjukan asal.
Kelakuan (budi bahasa) orang menunjukan asal keturunannya.
PERIBAHASA DENGAN KATA "ASAM"
_______________________________________________________________#123. Garam di laut asam digunung, bertemu dalam belanga.
Laki-laki dan perempuan kalau sudah jodoh bertemu juga.
#124. Kelihatan asam kelatnya.
Kelihatan sifat-sifatnya yang kurang baik.
#125. Sudah seasam segaramnya.
Sudah tidak ada celanya (tentang pekerjaan, perbuatan)
#126. Tahu asam garamnya.
Tahu seluk beluknya (baik buruknya)
PERIBAHASA DENGAN KATA "ASAP"
_______________________________________________________________#127. Belum dipanjat asap kemenyan.
Belum kawin.
#128. Dari asa nasi saja.
Mengakukan milik (kepunyaan orang lain).
#129. Menggantang asap, mengukir langit.
Melakukan perbuatan sia-sia atau berangan-angan yang hampa belaka.
ASING
_______________________________________________________________#130. Asing lubuk, asing ikannya.
Lain daerah, lain adatnya.
#131. Asing maksud, asing sampai.
Tidak sesuai dengan yang diharapkan.
#132. Atap rumbia perabung upih.
Barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk.
#133. Aur ditanam, betung tumbuh.
Mendapat untung (laba) yang banyak.
#134. Seperti aur dengan rebung.
Sangat karib tentang persahabatannya.
#135. Seperti aur dengan tebing.
Saling menolong, tunjang menunjang.
#136. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya.
Kita yang bersusah payang, orang lain yang mendapat keuntungan.
#137. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.
Untuk menutupi kesalahannya, dicari alasan pada orang lain.
PERIBAHASA DENGAN KATA "AYAM"
_______________________________________________________________#138. Ayam bertelur di atas padi.
Hidup dalam kesenangan dan kemewahan.
#139. Ayam bertelur di padi mati kelaparan.
Selalu kekurangan meskipun berpenghasilan besar.
#140. Ayam berkokok, hari siang.
Sudah ada tanda yang pasti.
#141. Ayam ditambat disambar elang.
Malang sekali, bernasib buruk.
#142. Ayam beroga itu kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun,
ke hutan juga perginya.
Betapapun senangnya dan bahagianya di perantauan, negeri asal kita tak
mudah dilupakan.
#143. Ayam hitam terbang malam, hingga ke rimba dalam, bertali ijuk
bertambang tanduk.
Sukar ketahuan (tentang perkara atau sebagainya).
#144. Ayam itik raja pada tempatnya.
Setiap orang berkuasa di lingkungan atau tempatnya.
#145. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasi, bertali benang
bertambah tulang.
Mudah ketahuan.
#146. Bagai ayam dimakan tungau.
Tidak sehat badannya, lagi kurus dan pucat wajahnya.
#147. Menerka ayam di dalam telur.
Menentukan sesuatu yang mustahil ditentukan.
#148. Seperti anak ayam kehilangan induk.
Menderita kesusahan karena kehilangan pemimpinnya.
#149. Seperti musang berbulu ayam.
Pura-pura berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.
PERIBAHASA #B
PERIBAHASA DENGAN KATA "BABI"
____________________________________________________________
Menyama-nyamai orang besar (kaya).
#151. Kalau sorok lebih dahulu daripada tokok, tidak mati babi.
Kalau lagak atau bual yang didahulukan, maksud tidak akan tercapai.
#152. Badak makan anak.
Ayah membuang anaknya karena takut akan binasa kebesarannya (pada raja-raja
zaman dahulu).
#153. Seperti kulit badak.
Tidak punya perasaan.
#154. Badan dapat dimiliki, hati tak dapat dimiliki.
Orang yang selalu menuruti perintah, tapi dalam hatinya melawan.
#155. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak mudah dilupakan orang.
#156. Beroleh badar ditimbahkan.
Mendpat keuntungan yang tida disangka-sangka.
#157. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri.
Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baikpun menjadi bagus.
#158. Besar kayu besar bahannya.
Jika penghasilan besar, pengeluaran besar.
#159. Bahasa menunjukan bangsa.
Budi bahasa, perangai, dan tutur kata menunjukan sifat dan tabiat seseorang.
#160. Memikul dibahu, menjunjung di kepala.
Mengerjakan sesuatu menurut aturan.
#161. Tangan mencencang, bahu memikul.
Siapa yang salah harus mendapat hukuman.
#162. Bajak patah banting terambau.
Menderita kecelakaan bertimpa-timpa.
#163. Bajak selalu di tanah lembut.
Orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah.
#164. Bajak sudah terdorong ke bancah.
Sudah terlanjur tidak dapat kembali.
#165. Dahulu bajak daripada jawi.
Sesuatu yang patut didahulukan, dikebelangkankan/Tidak menurut aturan biasanya.
#166. Baji dahan membelah dahan.
Memboroskan harta tuannya.
#167. Bersua baji dengan matan, tahan baji oleh kelidai.
Keras berani lawan keras berani pula.
#168. Bagai memakai baju pinjaman.
Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.
#169. Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang ke sisiran.
Seseorang yang senang karena terlepas dari kesusahan.
#170. Baju indah dari balai, tiba dirumah menyarungkan.
Hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi.
#171. Jangan mengukur baju orang di badan sendiri.
Jangan mengukur orang lain dengan kejahatan dan kebaikan kita sendiri.
#172. Mencabik baju di dada.
Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.
#173. Mengukur baju di badan sendiri.
Menentuan baik dan buruk menurut perasaan sendiri.
#174. Bakarlah air ambilah abunya.
Menghendaki sesuatu yang mustahil kita peroleh.
#175. Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Sangat kikir, sangat kuasa.
#176. Bagai kebakaran jenggot.
Bingung tidak karuan.
#177. Terbakar kampung kelihatan asap, terbakar hati siapa tahu.
Biasanya jarang sekali orang memperhatikan kesusahan orang lain.
#178. Bala lalu dibawa singgah.
Sengaja mencari kesusahan atau kecelakaan.
#179. Bagai balam dengan ketitir.
Perihal orang yang selalu bertengkar, masing-masing membanggakan dirinya sendiri.
#180. Ibarat seekor balam, mata terlepas badan terkurung.
Ibarat wanita pingitan.
#181. Memikat balam dengan balam.
Mendapat sesuatu dengan sebangsanya.
#182. Alang berjawab, tepuk berbalas.
Baik dibalas baik, jahat dibalas dengan jahat.
#183. Balik belakang lain bicara.
Tidak teguh memegang janji.
#184. Tersembunyi di balik kata.
Mempunyai maksud lain dari apa yang dikatakan.
Aduh capek juga nulisnya... mending baca dulu pantun cinta romantis banget.